Kamis, 11 September 2014

Tentang Perencanaan Keuangan

Krisis moneter mondial semakin mudah terjadi dalam era kesemrawutan global. Bahkan negara-negara adidaya pun kelabakan menghadapinya. Kebijakan yang semula diagung-agungkan bisa saja tiba-tiba dicemooh sebagai penyebab krisis yang berdampak luas. Laju inflasi sering tak terbendung bahkan oleh para ekonom yang paling jempolan di seluruh dunia. Persaingan terpapar apalagi tersamar membuat semua terkena hantaman krisis global hingga menggelepar. Di kalangan masyarakat, baik yang sudah punya anggaran yang bagus dan diamalkan dengan baik dan benar maupun dan terlebih-lebih yang memikirkannya pun belum pernah, mengeluh: “Semakin tua, dunia tak semakin bijaksana, bahkan makin kejam saja.”
disiplin

Tak sedikit yang berpandangan negatif. “Buat apa anggaran? Harta saya takkan habis untuk tujuh turunan!” atau “Buat apa merencanakan keuangan jika pada saat krisis begini saya tetap terkena dampaknya?” atau “Penghasilan saya pas-pasan. Apa perlunya perencanaan?” Tapi mungkin juga ada yang berpikir positif: “Untunglah saya sudah mengantisipasi segala kemungkinan terburuk itu dengan sebuah anggaran yang bisa saya laksanakan secara disiplin dengan komitmen meraih masa depan yang lebih baik!” Yang terakhir ini mungkin sudah menyadari bahwa investasi adalah menunda kenikmatan sekarang untuk memperoleh imbal hasil yang lebih besar di masa mendatang dengan paradigma baru tentang pentingnya anggaran: This is not about how much money you earn, but how much money you can save.

siklus anggaran sesungguhnya bukan hanya kewajiban orang kaya untuk mempertahankan dan mengembangkan kekayaannya, tetapi juga bagi kelas menengah ke bawah guna meminimalisasi kegamangan dalam menghadapi masa depan yang semakin unpredictable. Dengan perencanaan, kita menyiapkan diri terhadap berbagai kemungkinan dan menjadi lebih bertanggung jawab terhadap anugerah kehidupan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar